Rasulullah Saw menggembala domba semenjak remaja. Abû Hurairah menuturkan sebuah hadis dari Nabi Saw yang bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali menjadi penggembala terlebih dahulu.”
Para sahabat bertanya, “Dan Anda?”
Nabi menukas, “Ya, aku pun menggembala domba dengan upah dari penduduk Mekah.”
Sementara ulama menyebutkan bahwa Nabi Saw dan para nabi sebelum beliau—seperti Daud, Musa dan Isa—menjadi penggembala domba. Allah menghendaki sesuatu pada diri mereka, yakni sebagai pelatihan dan pendidikan bagi mereka untuk membina dan membimbing umat kelak.
Para nabi beralih dari penggembalaan domba menuju “penggembalaan” umat. Mereka tahu bagaimana mengendalikan dan mengarahkan umat. Siapa pun yang pernah menjadi penggembala ternak, pasti berpengalaman dan terlatih. Hewan yang lemah akan ia bantu, hewan liar akan ia halau, ternak yang gemuk dan berkualitas akan ia pilih dan beri minum. Ia akan menjaga dan melindungi ternak-ternaknya dari serigala-serigala jahat. Ia juga akan membawa ternak-ternaknya ke ladang rumput yang subur.
Demikian pula seorang pemimpin yang membimbing rakyatnya, dia menjadi seorang bijak yang memilihkan pilihan terbaik bagi para pengikutnya. Oleh karena itu, kepemimpinan Rasulullah Saw adalah kepemimpinan terbaik di dunia. Kepemimpinan beliau adalah siyâsah syar’iyyah yang sahih, yang tiada berbanding dan menjadi rujukan bagi segala bentuk keadilan di muka bumi ini. Rasulullah Saw adalah manusia paling penyayang, lemah lembut dan adil.
Di tambah lagi, pengalaman menggembala domba menanamkan sifat-sifat luhur dan baik pada diri si penggembala, seperti sifat lapang dada dan lemah lembut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa para penggembala domba adalah orang-orang yang paling lapang dada dan sabar. Rasulullah Saw sendiri pernah mewartakan bahwa ketenangan (sakinah) selalu dijumpai dalam diri para penggembala domba. Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Kesombongan dan keangkuhan ada dalam diri para penggembala unta, sementara ketenangan dan kebersahajaan ada dalam diri para penggembala domba.”
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para penggembala unta itu terpengaruh oleh interaksi mereka sehari-hari dengan unta yang keras kepala, arogan, bandel dan liar.
Sumber: Aid al-Qarni, Qishshatu Ar-Risâlah
Diambil dari www.al-kauny.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar