Rabu, 02 Maret 2011

Menyikapi Perbedaan dalam Perspektif Historis

Ahmad Sadzali

Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Salah satunya adalah isu perbedaan yang sekarang ini --bagi sebagian besar kita-- masih belum dapat menyikapinya dengan baik.

Tidak dapat dipu
ngkiri lagi, banyaknya berbagai golongan dan bahkan aliran yang ada dalam tubuh Islam sekarang ini memicu kontroversi tersendiri di kalangan kita, khususnya umat Islam di Indonesia. Tengok saja perdebatan yang sering terjadi antara sesama Muslim. Satu golongan menyalahkan golongan yang lainnya. Satu kelompok merasa hanya kelompoknya sajalah yang paling benar.
Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencobanya memberikan pencerahan berpikir dalam menanggapi itu semua dari perspektif sejarah.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Perbedaan itu merupakan hal yang lumrah adanya. Karena pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang diberikan Allah kepandaian dan kecerdasan yang baik dalam memahami ajaran agama Islam, namun ada juga yang tidak. Dari kalangan sahabat Rasulullah dulu, ada yang diberikan Allah hafalan yang kuat sehingga dapat menghafal wahyu Al-Quran dan hadist Rasulullah, ada juga yang hafalannya kurang.

Pada masa Rasulullah SAW, perbedaan pun juga sudah terjadi. Namun setiap perbedaan pendapat dan permasalahan umat yang muncul dapat langsung diselesaikan melalui beliau. Pada masa Rasulullah ini sumber utama ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Oleh karena itulah tidak ada masalah internal berarti yang dapat mewarnai kehidupan umat Islam ketika itu. Tentu saja ini salah satu kelebihan bagi umat yang hidup di zaman tersebut, sehingga tidak salah lagi apabila generasi Sahabat tersebut diberi julukan generasi terbaik.

Selanjutnya ketika Rasulullah telah tiada, maka beberapa perbedaan di kalangan umat Islam ketika itu telah bermunculan. Mulai dari masalah pemerintahan, sampai akhirnya berujung kepada aliran keagamaan sendiri dalam Islam. Pada masa Sahabat ini, rujukan umat Islam adalah Al-Quran, Sunnah Nabawiah, ijma', dan ra'yu. Dua rujukan terakhir ini adalah salah satu bentuk untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada di kalangan Sahabat, selain adanya permasalahan yang baru muncul yang tidak dibahas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Namun meskipun demikian, tentu saja yang menjadi rujukan utama dan landasan dari dua rujukan terakhir tetap Al-Quran dan Sunnah Nabawiah.

Dakwah Islamiyah di masa Sahabat ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perluasan wilayah Islamiyah ini adalah salah satu faktor adanya beberapa perbedaan di kalangan Sahabat. Perbedaan adat dan kultur masyarakat dari tempat yang berbeda-beda itulah sebab utamanya. Kultur Arab yang sangat kental pada masyarakat Madinah, berbeda dengan kultur masyarakat Iraq yang ketika itu masih terpengaruh dengan budaya Persia, dan berbeda juga dengan kulturnya masyarakat Mesir dan Syam yang masih menyimpan nilai-nilai budaya Romawi.

Namun perbedaan yang terjadi di antara Sahabat akibat dari faktor tersebut masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan umat Islam. Dan perbedaan yang terjadi ketika itu pun sangat sedikit sekali. Salah satu sebabnya karena para Sahabat masih banyak yang berada di Madinah, khususnya di zaman Khalifah Abu Bakar ra dan Khalifah Umar ibn Khathab ra, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Pada masa Tabi'in, wilayah Islam semakin luas lagi. Tentu saja semakin beragam pula kultur umat Islam yang melatarbelakanginya. Maka wajar ketika masa ini berkembang madrasah yang saling berbeda metode pengambilan hukumnya, khususnya dalam penggunaan ra'yu, yaitu Madrasah Ahlul Hadist di Madinah dan Madrasah Ahlul Ra'yi di Iraq.

Salah satu faktor penyebab berkembangnya Madrasah Ahlul Hadist adalah pengaruh yang diterima Tabi'in dari para Sahabat seperti Zaid ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar. Sedangkan Madrasah Ahlul Ra'yi mendapat pengaruh dari Abdullah ibn Mas'ud yang telah lama bermukim di Kufah sejak zaman Khalifah Umar ibn Khathab ra.

Beranjak ke masa Tabi'at tabi'in, kajian ilmu fikih dan berbagai cabang ilmu lainnya mencapai puncak kegemilangannya. Di mana pada masa inilah banyak ulama Mujtahid bermunculan. Sebagai contoh, munculnya berbagai macam mazhab fikih. Tentu saja perbedaan dalam ijtihad lebih beraneka ragam lagi.

Perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama terdahulu, sebenarnya hanya berkisar pada masalah furu'iyah atau cabang-cabang fikih saja. Itu pun disebabkan metode yang mereka gunakan untuk mengambil hukum fikih tersebut berbeda-beda. Misalnya dalam menentukan suatu hukum yang belum ada dibahas dalam Al-Quran dan Hadist, Imam Malik mengedepankan perbuatan penduduk Madinah, karena menurut beliau segala sesuatu yang berkenaan dengan cara beribadah penduduk Madinah tidak mungkin kalau bukan hasil dari melihat perbuatan Rasulullah yang diturun-temurunkan generasi ke generasi. Berbeda dengan Imam Syafi'i yang lebih mengedepankan Ijma' (kesepakatan para ulama) setelah Al-Quran dan Hadist.

Begitulah sekilas gambaran perjalanan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Intinya agama Islam itu satu, dan tidak ada berbagai macam jenis Islam yang lainnya. Sedangkan perbedaan pendapat dan golongan itu adalah bentuk dari pengembangan pemikiran Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya dalam ranah furu'iyah saja. Jika kemudian perbedaan yang berkembang justru menjurus kepada perbedaan akidah dan tauhid, maka tentu saja dalam hal ini kebenaran atau yang haq itu harus kita kedepankan. Karena batasan dan rambu-rambu yang digambarkan Islam dalam wilayah tauhid dan akidah itu sudah sangat jelas.

Jika ada yang mencoba untuk mengubah rukun Iman dan rukun Islam, maka ini harus kita perangi. Jika ada yang mengatakan Al-Qur'an hanyalah produk budaya, ini pun juga harus kita perangi. Jika ada yang memperbolehkan perkawinan homoseksual, pemikiran seperti ini jelas telah menyimpang dari koridor yang telah ditentukan Islam. Namun cara memeranginya pun juga harus baik. Jika kita diserang dengan pemikiran seperti itu, maka untuk membalasnya tentu saja juga dengan pemikiran juga, bukan malah dengan kekerasan.

Jika hal seperti ini yang terwujud di antara umat Islam di Indonesia sekarang ini, maka serasa indah Islam itu dijalankan. Penilaian-penilaian negatif tentang Islam dan perpecahan, Islam dan kekerasan, hingga Islam dan terorisme, harus segera kita hentikan. Caranya yaitu dengan membangun kembali image Islam yang cinta damai, yang profesional dalam menanggapi segala perbedaan. Image itu akan tumbuh tergantung bagaimana kita menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Wallahua 'lam.[]

Penulis Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo.

[Dimuat di Hidayatullah.com/opini pemikiran]

Menyikapi Perbedaan dalam Perspektif Historis

Ahmad Sadzali

Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Salah satunya adalah isu perbedaan yang sekarang ini --bagi sebagian besar kita-- masih belum dapat menyikapinya dengan baik.

Tidak dapat dipu
ngkiri lagi, banyaknya berbagai golongan dan bahkan aliran yang ada dalam tubuh Islam sekarang ini memicu kontroversi tersendiri di kalangan kita, khususnya umat Islam di Indonesia. Tengok saja perdebatan yang sering terjadi antara sesama Muslim. Satu golongan menyalahkan golongan yang lainnya. Satu kelompok merasa hanya kelompoknya sajalah yang paling benar.
Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencobanya memberikan pencerahan berpikir dalam menanggapi itu semua dari perspektif sejarah.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Perbedaan itu merupakan hal yang lumrah adanya. Karena pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang diberikan Allah kepandaian dan kecerdasan yang baik dalam memahami ajaran agama Islam, namun ada juga yang tidak. Dari kalangan sahabat Rasulullah dulu, ada yang diberikan Allah hafalan yang kuat sehingga dapat menghafal wahyu Al-Quran dan hadist Rasulullah, ada juga yang hafalannya kurang.

Pada masa Rasulullah SAW, perbedaan pun juga sudah terjadi. Namun setiap perbedaan pendapat dan permasalahan umat yang muncul dapat langsung diselesaikan melalui beliau. Pada masa Rasulullah ini sumber utama ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Oleh karena itulah tidak ada masalah internal berarti yang dapat mewarnai kehidupan umat Islam ketika itu. Tentu saja ini salah satu kelebihan bagi umat yang hidup di zaman tersebut, sehingga tidak salah lagi apabila generasi Sahabat tersebut diberi julukan generasi terbaik.

Selanjutnya ketika Rasulullah telah tiada, maka beberapa perbedaan di kalangan umat Islam ketika itu telah bermunculan. Mulai dari masalah pemerintahan, sampai akhirnya berujung kepada aliran keagamaan sendiri dalam Islam. Pada masa Sahabat ini, rujukan umat Islam adalah Al-Quran, Sunnah Nabawiah, ijma', dan ra'yu. Dua rujukan terakhir ini adalah salah satu bentuk untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada di kalangan Sahabat, selain adanya permasalahan yang baru muncul yang tidak dibahas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Namun meskipun demikian, tentu saja yang menjadi rujukan utama dan landasan dari dua rujukan terakhir tetap Al-Quran dan Sunnah Nabawiah.

Dakwah Islamiyah di masa Sahabat ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perluasan wilayah Islamiyah ini adalah salah satu faktor adanya beberapa perbedaan di kalangan Sahabat. Perbedaan adat dan kultur masyarakat dari tempat yang berbeda-beda itulah sebab utamanya. Kultur Arab yang sangat kental pada masyarakat Madinah, berbeda dengan kultur masyarakat Iraq yang ketika itu masih terpengaruh dengan budaya Persia, dan berbeda juga dengan kulturnya masyarakat Mesir dan Syam yang masih menyimpan nilai-nilai budaya Romawi.

Namun perbedaan yang terjadi di antara Sahabat akibat dari faktor tersebut masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan umat Islam. Dan perbedaan yang terjadi ketika itu pun sangat sedikit sekali. Salah satu sebabnya karena para Sahabat masih banyak yang berada di Madinah, khususnya di zaman Khalifah Abu Bakar ra dan Khalifah Umar ibn Khathab ra, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Pada masa Tabi'in, wilayah Islam semakin luas lagi. Tentu saja semakin beragam pula kultur umat Islam yang melatarbelakanginya. Maka wajar ketika masa ini berkembang madrasah yang saling berbeda metode pengambilan hukumnya, khususnya dalam penggunaan ra'yu, yaitu Madrasah Ahlul Hadist di Madinah dan Madrasah Ahlul Ra'yi di Iraq.

Salah satu faktor penyebab berkembangnya Madrasah Ahlul Hadist adalah pengaruh yang diterima Tabi'in dari para Sahabat seperti Zaid ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar. Sedangkan Madrasah Ahlul Ra'yi mendapat pengaruh dari Abdullah ibn Mas'ud yang telah lama bermukim di Kufah sejak zaman Khalifah Umar ibn Khathab ra.

Beranjak ke masa Tabi'at tabi'in, kajian ilmu fikih dan berbagai cabang ilmu lainnya mencapai puncak kegemilangannya. Di mana pada masa inilah banyak ulama Mujtahid bermunculan. Sebagai contoh, munculnya berbagai macam mazhab fikih. Tentu saja perbedaan dalam ijtihad lebih beraneka ragam lagi.

Perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama terdahulu, sebenarnya hanya berkisar pada masalah furu'iyah atau cabang-cabang fikih saja. Itu pun disebabkan metode yang mereka gunakan untuk mengambil hukum fikih tersebut berbeda-beda. Misalnya dalam menentukan suatu hukum yang belum ada dibahas dalam Al-Quran dan Hadist, Imam Malik mengedepankan perbuatan penduduk Madinah, karena menurut beliau segala sesuatu yang berkenaan dengan cara beribadah penduduk Madinah tidak mungkin kalau bukan hasil dari melihat perbuatan Rasulullah yang diturun-temurunkan generasi ke generasi. Berbeda dengan Imam Syafi'i yang lebih mengedepankan Ijma' (kesepakatan para ulama) setelah Al-Quran dan Hadist.

Begitulah sekilas gambaran perjalanan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Intinya agama Islam itu satu, dan tidak ada berbagai macam jenis Islam yang lainnya. Sedangkan perbedaan pendapat dan golongan itu adalah bentuk dari pengembangan pemikiran Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya dalam ranah furu'iyah saja. Jika kemudian perbedaan yang berkembang justru menjurus kepada perbedaan akidah dan tauhid, maka tentu saja dalam hal ini kebenaran atau yang haq itu harus kita kedepankan. Karena batasan dan rambu-rambu yang digambarkan Islam dalam wilayah tauhid dan akidah itu sudah sangat jelas.

Jika ada yang mencoba untuk mengubah rukun Iman dan rukun Islam, maka ini harus kita perangi. Jika ada yang mengatakan Al-Qur'an hanyalah produk budaya, ini pun juga harus kita perangi. Jika ada yang memperbolehkan perkawinan homoseksual, pemikiran seperti ini jelas telah menyimpang dari koridor yang telah ditentukan Islam. Namun cara memeranginya pun juga harus baik. Jika kita diserang dengan pemikiran seperti itu, maka untuk membalasnya tentu saja juga dengan pemikiran juga, bukan malah dengan kekerasan.

Jika hal seperti ini yang terwujud di antara umat Islam di Indonesia sekarang ini, maka serasa indah Islam itu dijalankan. Penilaian-penilaian negatif tentang Islam dan perpecahan, Islam dan kekerasan, hingga Islam dan terorisme, harus segera kita hentikan. Caranya yaitu dengan membangun kembali image Islam yang cinta damai, yang profesional dalam menanggapi segala perbedaan. Image itu akan tumbuh tergantung bagaimana kita menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan kita. Wallahua 'lam.[]

Penulis Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo.

[Dimuat di Hidayatullah.com/opini pemikiran]

Ketika Suasana Baru telah Muncul

Perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Akan tetapi manakala hal itu dimanaj dengan baik maka akan menjadi sebuah media untuk menguatkan sebuah ikatan. Manakala tidak maka hanya akan menjadi sesuatu yang berakhir pada suasanya baru yang mengarah pada hal tak nyaman.

Sebuah kelompok kecil anggap saja sebagai keluarga kecil dari para pencari ilmu sekian lama telah diikat dengan sesuatu yang membuat terasa hangat manakala mulai muncul dari diantara anggotanya sebuah faham yang baru maka dari sinilah benih-benih perpecahan mulai muncul. Boleh kita berbeda karena tidak cocok dengan suasana yang sedang dialami akan tetapi komunikasi tetaplah harus dibangun agar tidak terjadi kesalah fahaman.

Hal yang baik ketika salah dalam menyampaikan maka akan menjadi buruk hasilnya. Demikian juga hal yang baik, penyampaian baik namun kebetulan yang kita sampaikan sedang dalam kondisi tidak cocok maka hasilnya pun akan menjadi buruk. Maka dari itu bukan masalah apa yang kita sampaikan namun bagaimana kita menyampaikan, sedang dalam kondisi apa yang mau kita ajak bicara dan seberapa besar kapasitas kita dalam menyampaikan hal tersebut. Jika hal ini semua tidak difahami maka keluarga kecil yang sudah terikat pun akan kemudian muncul suasana baru benih-benih perpecahan.

Kita tidak boleh memaksakan pemikiran kita. Memang baik apa yang kita fahami akan tetapi jangan sampai kemudian kita menganggap buruk orang lain yang memiliki faham lain. Jangan kita anggap orang yang tidak tilawah bersama kita itu berarti dia tidak pernah tilawah, bisa jadi dia malah lebih rajin dalam tilawah hanya saj mungkin kebetulan kita tidak tahu. Sooo dalam setiap kondisi kita perlu hati-hati dalam menyampaikan.

Senin, 28 Februari 2011

Istiqomah fil Hayah

Sungguh sebuah nikmat yang tak disangka ketika selesai mengikuti pembinaan Madin di Kemenag Kab Kulonprogo. Adzan dhuhur telah berkumandang dan saatnyalah menunaikan ibadah agung kepada dzat yang maha Agung. Selesai shalat tak disangka ternyata yang maju ke mimbar untuk kultum adalah ustadz yang sangat aku hormati Ustadz Muh. Wahib Jamil. pesan-pesan beliau sungguh mengetuk hati.
Bagaimana tidak, beliau menyampaikan tentang keistiqomahan dalam hidup. Ada dua hal yang beliau sampaikan :
Pertama, Jika kita ingin tetap istiqomah maka kuatkan lah keikhlasan dalam diri kita di setiap tempat dan waktu. Dengan keikhlasan maka hati kita akan lebih tenang dan tidak akan terpengaruh dengan apapun. Ketika mendapat pujian maka kita tidak akan menjadi sombang dan ketika mendapat cercaan atau kerugian maka kita tidak akan menjadi kecil hati. Kita harus ingat bahwa setiap yang kita lakukan bisa dinilai positif maupun negatif. Contohnya seorang pejabat Kemenag yang mengadakan hajatan besar-besaran, kemudian ada yang komentar "Wah berapa ya hutang yang harus dibayar kok pejabat Kemenag bisa mengadakan hajatan sebesar ini...???". Demikian juga sebaliknya ketika mengadakan hajatan yang sederhana maka tetap ada saja yang komentar "Wah untung yang diraup berapa ya kok tamunya ja banyak tapi suguhannya cuman segini...???". Maka dari itu kunci segalanya adalah keikhlasan dan tindakan yang tepat sehingga apapun komentar orang kita tidak akan terpengaruh karena kita niat hanya milik Allah dan melakukan yang terbaik untuk Allah.
Kedua, Jika kita ingin tetap istiqomah maka janganlah kita menyalahkan atau mencela hadits dan ayat-ayat Allah. Ketika kita sedang mengalami suatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan dalam Al-Qur'an maka satu hal yang harus dirubah adalah pola pikir kita terhadap al-Qur'an dan al-Hadits tersebut. Kita harus menanamkan dalam diri kita sebuah keyakinan bahwa ketika Allah dan RasulNya menyampaikan sesuatu maka itu akan berlaku sampai akhir zaman.
Mari kita saling menguatkan keistiqomahan dalam diri kita...!!!

Nabi Penggembala

Rasulullah Saw menggembala domba semenjak remaja. Abû Hurairah menuturkan sebuah hadis dari Nabi Saw yang bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali menjadi penggembala terlebih dahulu.”

Para sahabat bertanya, “Dan Anda?”

Nabi menukas, “Ya, aku pun menggembala domba dengan upah dari penduduk Mekah.”

Sementara ulama menyebutkan bahwa Nabi Saw dan para nabi sebelum beliau—seperti Daud, Musa dan Isa—menjadi penggembala domba. Allah menghendaki sesuatu pada diri mereka, yakni sebagai pelatihan dan pendidikan bagi mereka untuk membina dan membimbing umat kelak.

Para nabi beralih dari penggembalaan domba menuju “penggembalaan” umat. Mereka tahu bagaimana mengendalikan dan mengarahkan umat. Siapa pun yang pernah menjadi penggembala ternak, pasti berpengalaman dan terlatih. Hewan yang lemah akan ia bantu, hewan liar akan ia halau, ternak yang gemuk dan berkualitas akan ia pilih dan beri minum. Ia akan menjaga dan melindungi ternak-ternaknya dari serigala-serigala jahat. Ia juga akan membawa ternak-ternaknya ke ladang rumput yang subur.

Demikian pula seorang pemimpin yang membimbing rakyatnya, dia menjadi seorang bijak yang memilihkan pilihan terbaik bagi para pengikutnya. Oleh karena itu, kepemimpinan Rasulullah Saw adalah kepemimpinan terbaik di dunia. Kepemimpinan beliau adalah siyâsah syar’iyyah yang sahih, yang tiada berbanding dan menjadi rujukan bagi segala bentuk keadilan di muka bumi ini. Rasulullah Saw adalah manusia paling penyayang, lemah lembut dan adil.

Di tambah lagi, pengalaman menggembala domba menanamkan sifat-sifat luhur dan baik pada diri si penggembala, seperti sifat lapang dada dan lemah lembut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa para penggembala domba adalah orang-orang yang paling lapang dada dan sabar. Rasulullah Saw sendiri pernah mewartakan bahwa ketenangan (sakinah) selalu dijumpai dalam diri para penggembala domba. Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Kesombongan dan keangkuhan ada dalam diri para penggembala unta, sementara ketenangan dan kebersahajaan ada dalam diri para penggembala domba.”

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para penggembala unta itu terpengaruh oleh interaksi mereka sehari-hari dengan unta yang keras kepala, arogan, bandel dan liar.

Sumber: Aid al-Qarni, Qishshatu Ar-Risâlah

Diambil dari www.al-kauny.com

Hewan Ternak dalam Islam

Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan beraneka ragam hewan ternak yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Jika kita perhatikan makna yang tersirat dalam surat Al Mukminuun ayat 21 tersebut dapat dilihat pentingnya hewan ternak bagi manusia. Betapa tidak, produk utama ternak (susu, daging dan telur) merupakan bahan pangan hewani bergizi tinggi yang dibutuhkan manusia.





Hewan ternak juga berperan sebagai sumber pendapatan, sebagai tabungan hidup, tenaga kerja pengolah lahan, alat transportasi, penghasil biogas, penghasil pupuk kandang dan sebagai hewan kesayangan (Tangka et al. 2000). Tidak heran bila Prof. I.K. Han, Guru Besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul, Korea Selatan (1999) menyebutkan pentingnya ternak dalam peningkatan kualitas hidup manusia.

Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan keagamaan: misalnya dalam melaksanakan ibadah qurban, dibutuhkan ternak sapi, domba ataupun kambing. Pada zaman dahulu jumlah pemilikan ternak juga merupakan indikasi strata sosial seseorang.


Islam dan Ilmu Peternakan

Ternak merupakan komoditi yang sudah lama akrab dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin. Di dalam Al Quran terdapat beberapa nama hewan ternak yang dijadikan sebagai nama surat, misalnya ternak sapi betina (Al Baqarah), hewan ternak (Al An'am), dan lebah (An Nahl). Banyak sekali ayat Al Quran yang secara eksplisit menyebut nama-nama hewan ternak, misalnya ternak sapi (QS. 2: 67-71, 73; QS. Yusuf: 43), unta (QS. Al An'am: 144; Al Hajj: 27, 37; Al Ghasiyah: 17), domba (QS. Al An'am: 143, 146; An Nahl: 80), kambing (QS. Al An'am: 143, An Nahl: 78, Shad: 23-24), unggas (QS. 2:260; 3: 49; 5: 110; 6: 38; 16: 79; 23: 41; 27: 16; 67: 19), kuda (QS. 3: 14; 8: 60; 16: 8; 38: 31; 100: 1) dan lebah/tawon (QS. 16: 68-69).

Hewan ternak merupakan sumber pelajaran yang penting di alam karena terdapat banyak hikmah dalam kehidupannya. Lihatlah bagaimana Allah memberikan kemampuan pada ternak ruminansia (sapi, kambing, domba dan kerbau) yang mampu mengkonversi rumput menjadi daging dan susu. Atau kemampuan lebah madu yang mampu mengkonversi cairan nektar tanaman menjadi madu (QS. An Nahl [16]: 68-69). Sedemikian besarnya peranan peternakan dalam memacu pembangunan ekonomi umat, maka sudah pada tempatnya sub sektor ini mendapat perhatian kaum Muslimin.

Peternak, Bukanlah Profesi Hina

"Semua Nabi pernah menggembala kambing", kata Rasulullah saw. dalam suatu perbincangan dengan para Sahabat. Seorang Sahabat bertanya, "Engkau sendiri bagaimana, ya Rasul?". "Aku sendiri pernah menggembala kambing," jawab Nabi. Dialog yang singkat tersebut mengisyaratkan bahwa menjadi peternak atau penggembala ternak adalah profesi yang pernah dilakoni oleh para nabi. Peternak bukanlah profesi hina. Bahkan, banyak penulis sirrah Nabi menjelaskan bahwa ketika berusia muda, Nabi Muhammad saw. adalah seorang penggembala kambing yang mahir dan sukses. Beberapa riwayat menjelaskan, Rosul yang mulia itu sering memerah susu domba piaraannya untuk konsumsi keluarga beliau.

Ingat kisah Nabi Musa a.s yang menjadi pengembala sapi selama 8 tahun, sebagai mahar ketika Musa menikahi anak perempuan Nabi Syuaib. Menjadi peternak sapi selama 8 tahun tentu bukanlah waktu yang singkat, namun itu yang dijalani Nabi Musa. Ikhlas menjadi seorang peternak.

Bahkan, profesi pengembala ternak telah tercatat dalam sejarah sejak Nabi Adam a.s. Ingatlah, ketika Allah SWT. memerintahkan kepada dua anak lelaki Nabi Adam, Habil dan Qabil untukm berkurban, dalam menentukan siapa yang lebih berhak kawin dengan Iklima (anak gadis Nabi Adam yang cantik) dan Labuda (anak gadis Nabi Adam yang kurang cantik). Sejarah mencatat, Habil mempersembahkan seekor domba yang sehat dan gemuk, sedangkan Qabil hanya mempersembahkan hasil pertanian yang tidak baik. Kurban Habil diterima Oleh Allah SWT. Berkurban dengan seekor domba.

Ingatlah pula sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai: "Sesungguhnya Tuhanmu kagum pada seorang pengembala kambing". Menjadi pengembala kambing mungkin profesi biasa yang biasa di mata kita, bukan pekerjaan yang istimewa. Tapi dimata Allah, si pengembala kambing itu adalah istimewa.

"Alkisah, seorang pengembala, di padang lapang, sunyi, tak berpenduduk, tak berpenghuni. Sendirian, ia hanya bersama kambing-kambingnya. Sepintas tidak ada yang istimewa dari si pengembala itu. Tapi pengembala itu telah membuat kagum Tuhannya. Dengan apa? Bila waktu sahalat tiba, di padang lapang itu, ia berdiri mengumandangkan adzan sendiri, lalu shalat sendirian. Setelah melakukan shalat, Allah swt. berfirman: "Lihatlah hambaKu ini, ia adzan, lalu mendirikan shalat. Ia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuninya dan Aku masukkan ia ke dalam surga". (Dikutip dalam Majalah Tarbawi, Juni 2006).

Subhanallah....


Manfaat Protein Hewani

Merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) beberapa waktu lalu amat menyakitkan kita. Kondisi ini merupakan cerminan rendahnya konsumsi kalori-protein pada tingkat keluarga. Sayangnya, di tengah usaha berbagai pihak mempromosikan peningkatan konsumsi protein hewani, negara ini kembali disibukkan oleh merebaknya kasus flu burung yang telah berdampak pada turunnya konsumsi daging dan telur.

Meskipun disadari pangan hewani sebagai kebutuhan primer, namun hingga kini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sangat rendah. Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) (Poultry International, 2003). Konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia 100 gram/kapita/hari.

Konsumsi telur di Indonesia juga rendah, 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Filipina 6,2 kg. Bila satu kg rata-rata 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir telur per hari. Padahal penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur per hari. Konsumsi susu masyarakat Indonesia juga sangat rendah, sekitar 7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia sudah mencapai 20 kg/kapita/tahun.

Konsumsi madu masyarakat Indonesia hanya 15 gram/kapita/tahun, sedangkan masyarakat di negara maju, seperti Jepang, Perancis, Inggris dan AS konsumsi madunya mencapai 1500 gram/kapita/tahun. Konsumsi daging, telur dan susu yang rendah menyebabkan target konsumsi protein hewani 6 gram/kapita/hari belum tercapai.

Padahal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, rata-rata konsumsi protein hewani yang ideal 26 gram/kapita/hari. Analisis paling akhir oleh Prof. I.K Han (1999) menyatakan adanya kaitan positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan perkapita. Semakin tinggi konsumsi protein hewani penduduk semakin tinggi umur harapan hidup dan pendapatan domestik brutto (PDB) negara tersebut.

Korea, Brazil, Cina, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya berkisar 65-75 tahun. AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi protein hewani masyarakatnya 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85 tahun. Negara-negara yang konsumsi protein hewani di bawah 10 gram/kapita/hari: Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya berkisar 55-65 tahun. Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia.

Malaysia yang pada tahun 1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP) Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya. Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Filipina (83).

Konsumsi protein hewani yang rendah banyak terjadi pada anak usia bawah lima tahun (balita), terlihat pada merebaknya kasus busung lapar dan malnutrisi beberapa waktu lalu. Rendahnya asupan kalori-protein pada anak balita menyebabkan meningkatnya kasus malnutrisi dan rendahnya tingkat kecerdasan. Usia balita disebut juga periode "the golden age" dimana sel-sel otak anak manusia sedang berkembang pesat. Pada fase ini otak membutuhkan suplai protein hewani yang cukup agar berkembang optimal.

Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita berpotensi menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performa anak di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Monckeberg (1971) menunjukkan adanya hubungan tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah dengan kejadian defisiensi mental. Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Shiraki et al. (1972) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah "sport anemia". Penyakit ini dapat dicegah dengan mengonsumsi protein yang tinggi, yaitu 50% harus berasal dari hewani.


Kesimpulan

Mengingat pentingnya protein hewani bagi segala lapisan usia, maka konsumsi produk ternak semestinya dipacu menuju tingkat konsumsi ideal. Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Karena itu, konsumsi protein hewani harus dipacu untuk mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat.

Mengakhiri tulisan ini, pantas kita renungkan sebuah pepatah berbahasa Arab yang berbunyi "Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pemah miskin, dan negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya." (Campbell dan Lasley, 1985). Negara Indonesia sebenarnya kaya dengan populasi ternak, namun perhatian pemerintah masih rendah terhadap sektor ini. Barangkali itulah salah satu penyebab negara ini sulit bangkit dari krisis ekonomi. Marilah kita majukan sektor peternakan.

"IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA"



Judul Asli Artikel: Hewan Ternak, Penulis: DR. A. Rusfidra, Tanggal publikasi: 07/06/2006 - 08:33 Dipublikasikan di:http ://www. bung - hatta.info/content.php? article. 144

Jan 2, '08 4:02 AM, DR. A. Rusfidra (Pemerhati Peternakan)

Diambil dari